Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kab. Cirebon akhirnya hanya meloloskan tiga pasangan calon bupati dan calon wakil bupati (cabup dan cawabup). Satu pasangan cabup dan cawabup gagal setelah dinyatakan tidak lolos verifikasi.

Pasangan yang gagal dari jalur perorangan (independen) yakni H. Ading Rupadi-Hj Siti Farikhatul Ain. KPU membatalkan pencalonan karena pasangan ini tidak memenuhi syarat minimum dukungan.

Ketua KPUD setempat, Prof. H. Muhaimin, M.Si, Senin (25/8), mengemukakan hasil verifikasi tersebut. Selain mengumumkan hasil verifikasi, KPUD juga mengungkapkan rekapitulasi daftar kekayaan para calon.

Untuk cabup-cawabup, pasangan Ading-Siti gagal karena sampai batas waktu yang ditentukan hanya mengumpulkan 2,19 persen dari ketentuan minimal dukungan 3 persen. Calon dari jalur non partai ini hanya mengumpulkan 48.000 suara lebih, padahal berdasar ketentuan, syarat minimum dukungan harus mencapai 64.000 lebih.

Dengan gagalnya Ading-Siti, KPUD hanya meloloskan tiga pasang cabup-cawabup, dua pasang dari jalur partai dan satu pasang non partai. Masing-masing dari jalur partai H. Dedi Supardi-H. Ason Sukasa (Desa), didukung PDIP, Golkar, PD, PAN, PBB dan aliansi 12 parpol.

Kemudian pasangan H. Djakaria Mahmud-Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat (Damar), didukung PKB, PPP, PKS, PNBKI dan PBR. Satu pasangan non partai yang lolos ialah H. Sunjaya Purwadi-H. Abdul Hayii (Sah).

(PR)

 

Bakal Calon Bupati Cirebon Djakaria Machmud, yang di usung Koalisi partai islam (PKB, PKS, dan PPP), menempati urutan pertama dalam kepemilikan kekayaan terbanyak yaitu senilai Rp 120 miliar.

Informasi yang diperoleh dari KPUD Kabupaten Cirebon menyebutkan bahwa total kekayaan pengusaha hotel dan rektor Unswagati ini lebih besar hampir dua kali lipat dengan calon  bupati Incumbent Dedi Supardi, PNS, yang juga memiliki harta cukup lumayan senilai Rp 63 miliar.

Calon bupati lainnya yakni Letkol (Purn) Sunjaya Purwadi menempati urutan ketiga dengan kekayaan Rp 11 miliar.

Untuk posisi calon wakil bupati, kekayaan terbanyak ditempati Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat dengan Rp 8 miliar. Sementara calon wakil lainnya seperti Ason Sukasa, dan Abdul Hayii hanya memiliki harta di bawah Rp 1 miliar.

Dengan demikian, pasangan calon Bupati yang  kemungkinan lolos verifikasi KPUD pasangan terkaya disanding oleh Djakaria Machmud-PRA Arief Natadiningrat (Damar) disusul pasangan bupati incumbent Dedi Supardi-Ason Sukasa (Desa) dan berikutnya pasangan Sunjaya Purwadi-Abdul Hayii (Sah).

Sementara itu pengumuman hasil verifikasi dan daftar kekayaan calon rencananya akan diumumkan KPUD Kabupaten Cirebon pada tanggal 25 Agustus mendatang. (Qim)

 

PKS menyakan keseriusannya mengusung Dr. H. Djakaria Machmud dan PRA Arief Natadiningrat sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati Cirebon. “Kami akan all out mendukung dan memenangkan Damar, ujar Arif Rahman, ST.

Salah satu anggota DPRD dari PKS ini yakin, setelah berkoalisi dengan PKB dan PPP, pasangan ini memiliki kekuatan yang cukup besar, dan mampu menandingi DESA dari koalisi PDIP dan Partai Golkar dan juga pasangan Sunjaya-Abdul Hayi.

Keyakinan komitmen itu, jelas Arif, berdasarkan pada pengamatannya. Ia menilai massa tradisional PBB dan PAN akan lebih nyaman memilih Djakaria, karena komitmen keagamaannya. Partai Demokrat sudah menjadi massa mengambang lantaran partai ini besar karena popularitas SBY. Dalam kaitan pilkada Kabupaten Cirebon, kata Arif, sama sekali tidak ada relevansinya.

Djakaria juga awalnya sempat di Golkar. Jaringannya dengan sesepuh Golkar dulu juga masih terjalin baik. Massa PDIP akan dikelola baik oleh Pangeran Arief. Sedangkan massa NU (Nahdlatul Ulama) sudah habis oleh PPP dan PKB. Dengan perhitungan seperti itu, Koalisi Penyelamat Kabupaten Cirebon optimis bisa menang.

Awal keseriusan itu dibuktikan saat deklarasi pasangan DAMAR yang dilaksanakan Ahad, 3 Agustus 2008, silam, di lapangan Weru Plered. Sebagian besar massa pendukung yang mencapai seratusan ribu itu didominasi massa PKS.

“Ini bukti bahwa PKS benar-benar serius mendukung Djakaria untuk Maju,” ujar Junaedi, ST, dari Bapilu PKS. Ia menambahkan itu adalah masa real. Bahkan belum dikerahkan semua.

Ia mengisahkan, saat pawai deklarasi, Djakaria sempat tercengang ketika menolah ke belakang. Tercengang lantaran tanpa sadar ada ribuan massa yang menyemut berbaris putih mengiringi perjalanan pawai menuju pusat pelaksanaan deklarasi di Lapangan weru. Bahkan, tanpa sadar ia melontarkan pernyataan, “Luar biasa!”

Penilaian PKS, Djakaria adalah sosok yang tepat. Di lihat dari sisi pengalaman dan latar belakangnya sudah tidak diragukan lagi. “Ia bisa memajukan kota lain, pastinya bisa memajukan Kabupaten Cirebon.” Ujar Arif Rahman.

Tak hanya itu, masyarakat juga sudah lekat dengan sosok Djakaria. Arif menjelaskan, DPD PKS Tangerang sendiri sempat meminta Djakaria untuk kembali memimpin Kota Tangerang.

Pihaknya yakin bisa mengalahkan incumbent jika diperkenankan untuk ditarik kembali ke Tangerang. “Kalau sudah begini, sayang kalau Cirebon tidak memanfaatkan,” lanjut Arif.

Hingga 26 Oktober 2008, PKS siap mengawal dan mengantarkan perjalanan DAMAR untuk maju sebagai bupati dan wakil bupati. “Kita akan menyiapkan aksi penuh,” tegasnya.

(SK)

 

note: *padang = terang

maksudnya, karena Damar mampu menerangi Desa.

Halaman Berikutnya »